Proses belajar yang sesungguhnya tidak berhenti di ruang kelas. Hal itu yang diyakini Yuan Achda, guru sekaligus pembina ekstrakurikuler olahraga di SMA Nizamia Andalusia Jakarta. Ia terus berinovasi dengan menghubungkan teori akademik dengan kegiatan ekstrakurikuler seperti olahraga agar siswa dapat berkembang secara utuh baik intelektual maupun karakter.
Yuan, sapaan karibnya, menginovasikan pembelajaran dengan mengintegrasikan kedisiplinan akademik dengan kompetisi olahraga, mengadopsi sistem yang diterapkan oleh NCAA (National Collegiate Athletic Association) di Amerika Serikat.
“Saya pernah waktu kuliah dulu itu mengkaji tentang bagaimana NCAA, yang kompetisi tertinggi di universitas US, itu menerapkan kebijakan untuk semua atletnya wajib punya target akademik. Itu sedikit banyak saya terapkan di sini, di Nizamia ini untuk kanak-kanak yang ikut basket,” ujarnya.
Itu salah satu cara yang dilakukan Yuan untuk meningkatkan akademik dan nonakademik di sekolahnya berdasarkan pengalaman yang ia punya semasa kuliah. Dengan latar belakang Magister Sport Science di ITB, ia ingin lebih banyak mengimplementasikan teori menjadi sebuah hal yang konkrit untuk anak didiknya.
Baca Juga: DBL Super Teacher: Arno Johan Seimbangkan Akademik dan Taekwondo di Pekalongan
Bagi Yuan, olahraga bukanlah beban, tapi cara kita untuk berterima kasih pada tubuh. Ketika banyak siswa yang mengeluh suntuk dengan rutinitas yang padat, di sinilah olahraga harus mengambil peran yang tepat. “Filosofi yang dibawa adalah olahraga tidak boleh menjadi beban psikologis tambahan bagi siswa,” beber Yuan.
Potret Yuan Achda saat Menjadi Coach Futsal bersama dengan Anak Didiknya (Foto: dokumentasi pribadi)
Oleh karena itu, contoh olahraga basket, harus diposisikan sebagai “hiburan” yang menyehatkan. Ketika siswa sudah merasa senang dan menjiwai olahraga tersebut, kedisiplinan dan komitmen akan tumbuh dengan sendirinya. Pada akhirnya, harmoni inilah yang dipercaya Yuan untuk bisa menciptakan prestasi yang sebenarnya.
Lewat olahraga, Yuan juga ingin membentuk karakter lewat kedisiplinan. Menurutnya karakter tidak dibangun dengan teori semata, tetapi dari penerapan rules yang konsisten bagi semua pihak, termasuk para pelatih dan guru itu sendiri. Dan karakter yang baik terbentuk karena adanya sebuah nilai.
“Sebelum mulai latihan, kita bikin agreement. Jika terlambat satu menit dari toleransi lima menit, ada konsekuensi lari keliling lapangan sesuai jumlah menit terlambat. Dan itu berlaku juga buat saya sebagai pelatih maupun gurunya. Kalau saya yang telat, saya juga harus lari. Itu melatih anak-anak bertanggung jawab dan belajar fairness,” ungkapnya.
Setelah karakter dibentuk lewat olahraga, Yuan ingin olahraga menjadi physical literacy. Artinya bukan hanya mereka bagus di olahraganya secara psikomotoriknya, tetapi juga secara holistik dan kognitifnya. Tentunya PR Yuan bertambah untuk membuat anak didiknya jatuh cinta dulu terhadap olahraga. Setiap sesi ia buat anak-anak untuk ‘suka’ dulu dan ‘asik’ dulu, hingga akhirnya mereka antusias. Setelah antusias, ia baru menanamkan bahwa di pelajaran olahraga ini tidak hanya mengejar nilai tapi juga bisa membawa ilmu yang ada di sini untuk diterapkan di luar nanti.
Baca Juga: DBL Super Teacher: Kedekatan Asniwaty Kunci Sukses Drumband SMAN 2 Merauke
“Biar olahraga menjadi long life healthiness tidak hanya berhenti dari kelas dan sekolah, tapi sampai dengan akhir hayat,” tambahnya.
Melalui integrasi antara apresiasi, ketegasan prinsip akademik, dan pembiasaan gaya hidup sehat, Yuan ingin membuktikan bahwa olahraga dan prestasi belajar dapat berjalan saling mendukung. Dengan begitu, terciptalah generasi yang berkarakter tangguh.
Yuan Achda Terus Aktif Berinovasi untuk Membuat Olahraga Menjadi Kegiatan yang Menyenangkan (Foto: dokumentasi pribadi)
Melalui DBL Super Teacher nanti, Yuan berharap bisa menerima banyak insight baru yang akan diimplementasikan di sekolahnya.
DBL Super Teacher adalah program pelatihan, pengembangan kapasitas, dan apresiasi bagi guru pendamping yang digagas oleh DBL Indonesia bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Baca Juga: DBL Super Teacher: Dede Rahmat Hidupkan Seni dan Kreativitas di Biak
Program ini ditujukan bagi tenaga pendidik yang berdedikasi tinggi dan meyakini bahwa proses belajar tidak hanya berhenti di dalam ruang kelas. Guru-guru terpilih juga akan mendapatkan kesempatan mengikuti pelatihan hingga belajar (short course) ke luar negeri.
Program yang didukung Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) ini gratis dan terbuka bagi seluruh guru di Indonesia. (*)