Pertandingan kedua Junior DBL 2026 Surabaya menjadi ruang belajar bagi SMP Petra 3 Surabaya. Berhadapan dengan SMPN 6 Surabaya di DBL Arena Surabaya, Senin, 21 September 2026, Petra 3 harus mengakui keunggulan lawannya dengan skor 12-20.
Para pemain Petra 3 tetap berusaha menjalankan permainan hingga pertandingan berakhir. Hasil akhir memang belum berpihak kepada mereka. Namun, bagi Coach Fahad Salim, ada hal lain yang lebih penting dari sekadar hasil pertandingan.
Ia melihat laga tersebut sebagai bagian dari proses perkembangan para pemain yang masih berada di level SMP. Setiap pertandingan menjadi kesempatan bagi mereka untuk memahami permainan sekaligus melihat hal-hal yang masih perlu diperbaiki.
"Kalau emang game-nya lagi bagus dan kita bisa menang, kita bisa belajar. Kalau emang kita lagi kalah, kita harus tahu kesalahannya untuk dievaluasi," ujar Coach Fahad.
Baca juga: Mimpi yang Dulu Dikejar, Kini Muhammad Adhim Tumbuhkan
Cara pandang tersebut turut dibentuk oleh perjalanan Coach Fahad di dunia basket. Sebelum menjadi pelatih, ia lebih dulu merasakan atmosfer kompetisi profesional sebagai pemain. Ia pernah memperkuat Bimasakti Malang IBL dan NBL Indonesia pada 2006 hingga 2012.
Perjalanan itu kemudian membawanya ke dunia kepelatihan. Sebelum mendampingi Petra 3, Coach Fahad lebih dulu menangani tim di level SMA. Ia menjadi asisten pelatih SMA Frateran pada 2023, lalu dipercaya sebagai kepala pelatih SMAN 15 Surabaya pada 2024 dan SMAN 5 Surabaya pada 2025.
Pengalaman menangani pemain di beberapa jenjang membuat Coach Fahad memahami bahwa cara mendampingi pemain tidak bisa disamakan. Terlebih, pemain Petra 3 masih berada di level SMP dan memiliki kebutuhan perkembangan yang berbeda dengan pemain SMA.
Menurutnya, pemain SMA mulai belajar menuju kedewasaan dan memiliki tanggung jawab yang lebih besar. Sementara itu, pemain SMP masih perlu banyak belajar mengenai tanggung jawab, fokus, pemahaman terhadap materi, hingga perkembangan kemampuan basket mereka.
"Kalau di SMA mereka sudah belajar untuk menjadi dewasa. Sedangkan yang ini masih belajar buat tanggung jawab. Jadi memang fokus ke arah development-nya juga enggak sama,” tuturnya.
Baca juga: Guru Petra 3 Melihat Sisi Berbeda Anak Didiknya di Tengah Laga Ketat
Hal tersebut menjadi salah satu perhatian Coach Fahad selama mendampingi Petra 3. Ia tidak ingin proses pembentukan pemain hanya berorientasi pada kemampuan bermain atau hasil pertandingan. Development menjadi bagian yang berjalan bersamaan dengan latihan dan kompetisi.
Proses tersebut juga berkaitan dengan culture basket yang sedang dibangun di Petra 3. Coach Fahad bergabung setelah mendapat ajakan untuk berdiskusi mengenai kondisi basket sekolah, kendala yang dihadapi, serta arah yang ingin dikembangkan.

Coach Fahad memberikan arahan kepada pemain SMP Petra 3 Surabaya saat jeda pertandingan.
Dari pembicaraan tersebut, ia melihat adanya kesamaan visi. Pihak sekolah memiliki perhatian besar terhadap basket dan memberikan dukungan dari berbagai sisi. Kepala sekolah, guru, hingga orang tua turut memberikan dukungan terhadap perkembangan basket di sekolah.
Petra 3 bahkan tengah membangun dua lapangan yang diperuntukkan bagi para siswanya. Namun bagi Coach Fahad, membangun culture basket tidak berhenti pada fasilitas. Ia lebih tertarik melihat perubahan yang terjadi pada pemain dalam kehidupan sehari-hari.
Disiplin, kehadiran di sekolah, serta kemampuan pemain bersosialisasi dan berkomunikasi dengan lingkungan menjadi bagian yang ia perhatikan. Baginya, perubahan tersebut menunjukkan bagaimana basket mulai memberikan pengaruh di luar lapangan.
"Yang dicari itu bukan cuma basket menang atau kalah. Yang penting development ke orangnya. Kalau mereka sudah mulai disiplin, itu yang bikin saya lebih bangga daripada melihat mereka sudah bisa mencetak berapa poin," katanya.
Baca juga: 2 Musim ke Fantastic Four, Coach Ernest Masih Berpegang pada Cara yang Sama
Culture tersebut juga mulai terlihat dari antusiasme pemain Petra 3 terhadap Junior DBL. Coach Fahad melihat para pemain tidak hanya datang ketika harus bertanding. Mereka juga mulai hadir untuk mendukung dan menemani teman yang bermain.
Menurutnya, kebiasaan sederhana seperti itu menjadi bagian dari proses belajar para pemain. Lapangan bukan hanya tempat menjalankan sistem permainan, tetapi juga ruang untuk belajar berkomunikasi, menerima koreksi, mengakui kesalahan, dan saling membantu.
Bagi Coach Fahad, pemain tidak harus selalu pulang dengan kemenangan untuk mendapatkan sesuatu dari sebuah pertandingan. Ketika kalah, mereka tetap memiliki kesempatan untuk mengevaluasi permainan dan memahami hal-hal yang perlu diperbaiki.
Karena itu, kekalahan dari Spensix menjadi bagian dari perjalanan Petra 3, bukan akhir dari proses mereka. Masih ada latihan berikutnya, evaluasi, dan kesempatan bagi para pemain untuk terus berkembang.
"Targetnya bukan menjadi juara setiap tahun atau mereka bakal menang setiap tahun. Kalau bisa menang, ambil menang. Tapi menang itu bukan yang utama. Yang utama mereka bisa belajar di setiap game," pungkas Coach Fahad.
Baca juga: Game dan TikTok Jadi Cara Coach Yeti Cairkan Suasana Srikandi Dapuda
Pertandingan itu menjadi salah satu bagian dari perjalanan Petra 3. Bagi Coach Fahad, ada pelajaran yang lebih penting dari sekadar hasil akhir. Melalui basket, ia ingin para pemain tidak hanya berkembang sebagai student-athlete, tetapi juga belajar tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.
Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 siap mengguncang 31 kota di 22 provinsi se-Indonesia. Seperti musim sebelumnya, DBL Indonesia akan menjaring para student-athlete terbaik dari setiap kota untuk memperebutkan tiket DBL Indonesia All-Star melalui program DBL Camp.
Tak kalah seru, Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 juga menghadirkan AZA 3X3 Competition serta AQUA DBL Dance 2026-2027 dengan mengusung tema "100% Indonesia". Seluruh keseruan pertandingan bisa disaksikan secara langsung di kanal YouTube DBL Play, serta di YouTube Good Day ID khusus untuk laga final. (*)
Profil Fahad Salim bisa kalian cek di bawah ini (pengguna Android bisa melakukan scroll dengan double tap).