Galang Jalu Massendi, student athlete SMA Batik 1, ternyata bukan pebasket rookie biasa. Sisi lain dari Galang adalah seorang karateka berprestasi tingkat internasional.
Sepak terjang Galang di dunia beladiri bukan kaleng-kaleng. Rekam jejak prestasinya terukir jelas mulai dari juara 1 International Karate Cadet Kumite -63kg Kemenpora RI, juara 2 International Cadet -52kg di Yogyakarta, hingga torehan juara 3 Piala Kadispora Surakarta. Namun, alih-alih terbatas di atas matras kumite, intuisinya juga disalurkan dengan apik di lapangan basket.
Perjalanan Galang mengenal karate sebenarnya berakar dari tradisi keluarga. Kakek, tante, hingga ibundanya merupakan sosok-sosok yang akrab dengan sabuk beladiri tersebut.
"Saya menekuni karate dari kakek, tante, dan Ibunda saya. Awalnya iseng dan jadi tertarik di bidang karate dari kelas 1 SD, kemudian saya mulai menyukai olahraga tersebut hingga sekarang," ungkap Galang.
Baca Juga: Leonardo & Steven Nuburai, Adik-kakak Asal Jayapura di Skuad Satya Wacana
Meski dibesarkan dalam keluarga karateka, Galang tak serta-merta menggantungkan seluruh fondasi tekniknya di rumah. Ia memilih menggembleng kemampuannya secara profesional di ASKI Solo Raya. "Dari keluarga hanya dilatih gerakan basic di rumah, selebihnya bersama pelatih dari klub," lanjutnya.
Lantas, bagaimana seorang pemegang medali karate internasional bisa terjun ke dunia basket yang mengandalkan kerja tim? Jawabannya cukup menggelitik: Galang ingin postur tumbuh tinggi.
"Saya mengikuti basket karena waktu itu hanya ingin mengejar tinggi badan dan untuk hobi. Tapi malah keterusan dari SMP kelas 1," kenang Galang.
Galang (nomor 9) mencoba melakukan intervensi lawan saat beraksi di DBL Central Java-South 2026.
Rasa adiktif itu itu rupanya berbuah serius. Galang sempat mengasah kemampuan di klub Bhinneka Basketball Surakarta hingga membawa sekolah lamanya saat SMP, merengkuh gelar juara 1 Liga Solo Junior.
Menariknya, alih-alih berbenturan, dua olahraga yang berseberangan karakter ini justru saling melengkapi. Disiplin karate membentuk daya tahan stamina serta ketajaman refleks Galang saat bermain basket.
"Sisi yang bisa dikombinasikan ada di insting, kecepatan, dan kestabilan. Pastinya sangat menambah stamina fisik," terangnya.
Bagi Galang sendiri, bermain di DBL adalah mimpinya sejak mengenal basket. Dan setelah ia berpartisipasi langsung, atmosfer panggung DBL memberikan impresi yang sangat mendalam. Siswa kelas X itu menilai gengsi kompetisi DBL jauh lebih prestisius dibanding kompetisi lain yang pernah ia ikuti.
"Saya melihat DBL ini seperti ajang yang berbeda dari yang lain. Dari segi acara, penyelenggaraanya, dan mentalitasnya jauh berbeda. Lebih keren dan sangat bergengsi, sudah seperti NBA versi remaja," tegasnya.
Baca Juga: Pelatih SMAN 2 Purbalingga: DBL Memberi Harapan bagi Pelajar Kami!
Sayang beribu sayang, di tahun pertamanya, Galang gagal membantu timnya menembuh babak play-off DBL Central Java-South 2026. SMA Batik kalah bersaing dari SMA Regina Pacis yang akhirnya memuncaki Grup C usai menyapu bersih kemenangan,
Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 digelar di 31 kota yang berada di 22 provinsi se-Indonesia. Dalam rangkaian Honda DBL with Kopi Good Day itu juga ada AZA 3X3 Competition serta AQUA DBL Dance 2026-2027. Termasuk AQUA DBL Dance 2026 Central Java-North.
Tahun ini kompetisi dance yang ada di DBL didukung penuh oleh AQUA. AQUA DBL Dance 2026-2027 sendiri mengusung tema "100% Indonesia". Tema ini benar-benar bisa mengajak anak muda untuk mengenal dan bangga pada budaya Indonesia.(*)