ESG

DBL ACADEMY

JR DBL

MAINBASKET

MAINMAIN

HAPPY
WEDNESDAY

DISWAY

MAINSEPEDA

dr Monica Elizabeth, assistant medical advisor DBL Indonesia, ketika mengedukasi peserta pentingnya prokes di Honda DBL 2021 DKI Jakarta Series (DBL Indonesia) 

Sejenak bergeser dari euforia para tim juara Honda DBL 2021 DKI Jakarta Series. Salah satu kesuksesan penerapan protokol kesehatan (prokes) yang ketat selama liga berlangsung, jadi salah satu momen bersejarah bagi kebangkitan kompetisi olahraga di tengah pandemi.

Mengenai prokes, DBL Indonesia sendiri sudah menjalankannya dengan baik. Seluruh yang terlibat pada Honda DBL 2021 seri Ibu Kota yang berlangsung sejak 7 hingga 23 Oktober dengan tertib menerapkan #JaJaCuTaPaMa (jaga jarak, cuci tangan, pakai masker) selama kegiatan. Serta sudah dua kali vaksin. Pun begitu dengan testing Covid-19. Sebanyak 2.100 swab tes PCR dan 1.000 antigen telah dilakukan pada perhelatan liga basket pelajar SMA terbesar se-Indonesia seri DKI Jakarta. 

Soal prokes ketat, DBL Indonesia juga turut menunjuk seorang medical advisor guna memantau langsung penerapan aturan prokes selama kompetisi berjalan. Serta mengemban misi sosialisasi pentingnya menjaga protokol kesehatan bagi para student athlete. 

Ada kisah menarik dari assistant medical advisor DBL Indonesia yang terjun langsung ke lapangan saat pelaksanaan Honda DBL 2021 Seri Ibu Kota kemarin. Dia adalah dr Monica Elizabeth, wanita yang kerap berada di tribun mengenakan vest Azawear yang selalu memantau keberlangsungan prokes, serta membantu tim medis selama kompetisi berjalan.

Lahir di Jakarta pada 27 Agustus, tepatnya 30 tahun silam, dokter Monic (biasa dirinya disapa), ternyata memang tak asing dengan basket. Monic kecil tumbuh dan besar di lingkungan basket. Terutama dari sang mama, yang ternyata juga pemain basket SMAN 3 Jakarta era 80-an.

“Mama sih yang kepengin juga anaknya bisa basket, akhirnya aku juga ikutan basket, bahkan sempat dimasukkan ke klub basket dekat rumah waktu kecil,” ujar dokter Monic. Jauh sebelum ikutan basket, dokter Monic juga pernah coba latihan balet. Bahkan ikut les piano.

“Kedua orang tua sebenarnya support terus biar anak-anaknya ada kegiatan tiap weekend, tapi yang keterusan malah basket hehe,” tandas perempuan sulung dari tiga bersaudara ini. Namun, meski punya latar belakang basket sejak SD sampai SMP, dokter Monic mengakui, dirinya bukan ‘anak basket banget’, tapi karena basket ia justru bisa melanjutkan sekolah ke jenjang SMA.

“Terus waktu SMP ke SMA, mamaku ditawarin mau nggak anaknya lanjut ke sekolah Raffles lewat jalur basket, ya dari situ aku lanjut ke sekolah Raffles lewat jalur basket dan akademis aku juga oke, jadi dapat beasiswa di SMA, padahal aku juga nggak jago-jago banget loh he he he,” terangnya.

dr Monica Elizabeth sewaktu memberikan edukasi soal prokes di Honda DBL 2021 DKI Jakarta Series (DBL Indonesia) 

Beranjak remaja, dokter Monic terus mengasah kemampuan basket, juga memperkuat nilai akademiknya. Di sekolah Raffles, beberapa kali ia ikut turnamen. Sayangnya, ketika ia SMA, belum ada kompetisi penuh gengsi seperti Honda DBL sekarang ini. “Sempat juara juga turnamen antar sekolah, turnamen kecil gitu lah, soalnya aku juga belum sempat ngerasain kompetisi kayak Honda DBL ini,” lanjutnya.

Menjelang lulus SMA, Monic remaja pun merasa ada ketertarikan di dunia kedokteran. Berbeda dari basket, yang secara darah mengalir dari sang mama. Soal jurusan kuliah, kedua orang tuanya memang menyerahkan sepenuhnya ke dirinya, namun kedua orang tua bukan orang kedokteran.

Mamanya merupakan lulusan IKIP Jakarta (sekarang ini Universitas Negeri Jakarta) jurusan pendidikan kesenian. Sementara ayahnya merupakan seorang lulusan ekonomi Universitas Indonesia. “Kalau kedokteran emang udah suka aja pelajran IPA pas di SMA, jadinya aku bilang ke mama, pengin sekolah kedokteran,” timpalnya.

Dokter Monic (paling kanan) ketika bermain basket bersama None Jakarta Pusat (dok pribadi dr Monica)

Jadilah, dokter Monic melanjutkan studi kedokteran di Universitas Indonesia (UI). Di sana, ia mengambil pendidikan kedokteran umum. Sempat berpikir tak akan sempat basketan lagi sebagai mahasiswi kedokteran, justru dokter Monic tetap bisa melanjutkan basket di kampusnya.

“Di kampus juga aku cukup aktif, ikut turnamen antar fakultas, atau antar angkatan kalau di fakultas kedokteran UI,” imbuhnya. Seperti suratan takdir, pada tahun 2015, ketika Monic sedang koas, ia justru dapat tawaran untuk ikut Abang-None DKI Jakarta.

Itu pun lagi-lagi karena basket. Ia dinilai punya akademik yang baik, juga punya prestasi mumpuni di basket. “Pas mau lulus, itu udah dekat-dekat koas selesai, aku terpilih jadi None, nah di situ juga ada lomba basket antar None wilayah di Jakarta, aku wakilin Jakarta Pusat deh,” cuapnya.

Usai lulus dari kedokteran UI pada tahun 2015, Monic sempat kerja magang, juga praktek sebagai dokter umum di beberapa rumah sakit di Jakarta. Pada akhir tahun lalu, ia pun melanjutkan studi kedokteran mengambil spesialis kedokteran olahraga. Itu pun diambil karena latar belakang basket yang sudah ia jalani sejak kecil.

Dokter Monic (depan) ketika mengikuti ajang Abang-None DKI Jakarta (dok pribadi dr Monica)

Baginya basket begitu memberikan pengalaman yang luar biasa. Meskipun secara karir dokter Monic bukan seorang pemain basket profesional. Namun, berkat basket ia bisa yakin mendalami spesialisasi kedokteran olahraga di UI sekarang ini. Dirinya pun senang bisa mengenal dan turut jadi bagian terselenggaranya kompetisi sebesar Honda DBL seri DKI Jakarta.

Dengan berakhirnya Honda DBL seri Ibu Kota, ia tetap berpesan agar tak lengah dalam menerapkan prokes, meskipun angka Covid-19 sudah berangsur membaik. “Tetap juga lakukan kegiatan fisik, karena aktvitas fisik itu membantu menjaga kondisi badan tetap prima,” pungkasnya. (*)

  RELATED ARTICLES
Comments (0)
PRESENTED BY
OFFICIAL PARTNERS
OFFICIAL SUPPLIERS