Setiap bintang besar selalu memiliki titik awal yang sunyi. Bagi penggawa andalan SMA Bukit Sion Jakarta (Buksi), Ryansean Bastian Gunawan, titik awal itu dimulai pada 2015.
Saat itu, Ryansean kecil hanyalah seorang anak polos yang sama sekali belum mengerti kerasnya persaingan di lapangan basket.
Sang ibunda, Tjhia Oktaviany, mengenang kembali memori jenaka sekaligus mengharukan saat putranya pertama kali mencicipi atmosfer pertandingan 11 tahun lalu.
Karena kekurangan pemain, Ryansean dimasukkan ke dalam tim, meski statusnya hanya sebagai cadangan mati alias "Camat".
"Pulang-pulang dia cerita, wajahnya senang banget. Katanya, kalau bola out, pasti dia yang disuruh ambil. Terus bilang, ‘Mami, tadi aku sengaja jalan lama-lamain pas balikin bolanya (inbound), supaya bisa pegang bola lebih lama.’ Saking 'camat'-nya waktu itu, bisa pegang bola saja dia bahagia sekali," kenang Mama Ryansean, diiringi tawa.
.jpg)
Beberapa foto Ryansean saat awal-awal mendalami olahraga basket
Siapa sangka, bocah polos yang sengaja memperlambat langkah demi mendekap bola basket lebih lama itu kini menjadi salah satu talenta muda terbaik di Indonesia.
Baca Juga: Tawaran Fantastis Hingga Siasat Coach Rimbun Jaga Kondisi Pemain di TC Mendatang
Garis takdir Ryansean dengan DBL Indonesia mulai bertaut saat ia duduk di bangku SMP pada 2020. Di usia 12 tahun, di tengah situasi pandemi yang membatasi ruang gerak, Ryansean menghabiskan waktu di depan televisi sepulang sekolah.
"Dia buru-buru beresin semuanya, ambil remote TV, lalu nonton YouTube DBL All-Star. Dia cerita ke saya baru tahun lalu pas dia pertama kali terpilih All-Star. Waktu SMP, dia nonton itu sambil berbisik dalam hati kalau suatu saat dia juga mau jadi bagian dari All-Star dan terbang ke Amerika," ungkap Tjhia.

Ryansean Bastian saat menyaksikan video DBL Indonesia All-Star (sumber: dokumentasi pribadi)
Langkah menuju mimpi itu terbuka lebar ketika bakatnya tercium oleh Coach Ricky Lesmana saat Ryansean bermain di sebuah turnamen antarklub kelas 6 SD.
Sejak saat itu, Ryansean resmi menimba ilmu di SMP Bukit Sion Jakarta dan jadi salah satu fondasi awal Buksi angkatannya, sebelum trio Buksi, yakni Efrael Yerusyalom Enrichia dan Riovaldo Renjiro Leonardy menyusul saat jenjang SMA.
Perjalanan Ryansean tidak melulu mulus. Ia tumbuh dari persaingan kompetisi yang keras, bahkan sempat melewati fase-fase menyakitkan yang menguji mentalnya. Mama Ryansean pun bercerita soal momen paling berat yang dialami oleh buah hatinya.
"Kita bukan dari keluarga atlet. Ryansean pernah di fase diremehkan, dan dianggap masih kurang. Bahkan pernah ada seleksi, Ryansean tidak dipanggil. Pas pengumuman dia tanya ke saya kenapa gak diajak. Sebagai orang tua, saya sedih banget dan sempat bingung mau jawab apa," tutur Mama Ryansean.
Baca Juga: Berawal dari Wild Card, Fathy Dapat Beasiswa dan Dilirik Tim Profesional
Di momen terpuruk itu, keluarga hadir sebagai jangkar pelindung. Tjhia terus memotivasi putranya untuk berlatih lebih keras dan memegang janji bahwa semua akan indah pada waktu-Nya.
Namun, ujian belum selesai. Tahun lalu, saat namanya sudah berhasil menembus jajaran 15 besar Timnas, petaka kembali datang.
Di tengah-tengah masa pemusatan latihan nasional, Ryansean harus membela sekolahnya di sebuah pertandingan. Di laga tersebut, ia justru mengalami cedera ankle parah yang memaksanya tercoret di detik-detik terakhir.
"Rasa terbayarkan lunas itu justru saat dia terpilih DBL All-Star tahun lalu (2025). Akhirnya dia diakui oleh banyak pihak. Lewat DBL All-Star, semua penolakan dan rasa sakit selama ini terbayar lunas. Doanya terjawab, mimpinya jadi kenyataan," kata Tjhia penuh haru.
.jpg)
Ryansean Bastian (lima dari kanan barisan paling belakang) saat pertama kali terpilih skuad DBL Indonesia All-Star 2025
Kini, karier basket Ryansean melesat tinggi. Setelah berhasil menembus skuad elite Kopi Good Day DBL Indonesia All-Star 2026, ia juga baru saja menuntaskan debut perdananya mengenakan jersei Indonesia pada ajang FIBA U18 Asia Cup SEABA Qualifiers 2026 Thailand.
Jadwal Ryansean dipastikan padat hingga Agustus karena harus menyambung agenda training camp DBL All-Star sebelum bertolak ke Amerika Serikat bulan Juli mendatang.
Meski demikian, Mama Ryansean mengaku sama sekali tak menyimpan kekhawatiran sebagai orang tua.
"Sama sekali tidak ada kekhawatiran, selama anaknya enjoy. Selama kegiatannya positif, saya pasti mendukung penuh. Kami sebagai orang tua justru sangat senang melihat anak bebas berkarya dan mengejar mimpinya," tutupnya, membagikan tips agar orang tua bisa menjadi support system terbaik tanpa harus menuntut anak secara berlebihan.
Baca Juga: Tangis Pecah Coach Ricky Lesmana: Janji Bawa Trio Buksi ke DBL All-Star Lunas!
Kopi Good Day DBL Camp 2026 telah diselenggarakan pada 27 April hingga 3 Mei 2026. Berbeda dari sebelumnya, DBL Camp musim ini menyapa tiga venue sekaligus, yakni DBL Academy Jakarta East (27 April-2 Mei 2026) dan GOR Soemantri Brodjonegoro, Jakarta Selatan & Grand Atrium Mall Kota Kasablanka (1-3 Mei 2026).
Ratusan campers terpilih telah menjadi orang pertama yang menjajal lapangan baru di DBL Academy Jakarta East. Lapangan berstandar internasional ini berlokasi di Genova Asya Commercial GC03-GC07, di Jalan Lake Garden Boulevard Jakarta Garden City, Cakung, Jakarta Timur.
Di sana, mereka juga kembali merasakan pengalaman dilatih para coach dari DBL Academy juga World Basketball Academy. Tak hanya itu, di sana campers juga merasakan bagaimana metode pelatihan baru serta penggunaan alat-alat berbasis sports science.
Rangkaian DBL Camp juga kembali menghadirkan Kopi Good Day DBL Festival 2026 di Grand Atrium Kota Kasablanka pada 30 April-3 Mei 2026. Di tempat itu pula diumumkan campers terbaik akan menyandang gelar Kopi Good Day DBL Indonesia All-Star 2026.
Mereka inilah yang berkesempatan terbang ke luar negeri untuk menimba ilmu basket hingga berkompetisi di turnamen level pelajar bergengsi.(*)
Baca Juga: Mengenal Kopi Good Day, Produk Kopi Anak Muda yang Banyak Rasa
Profil pemain ini bisa dilihat pada halaman di bawah ini (pengguna Android bisa lakukan scroll dengan double tap)