Sebelum terbiasa berdiri di tengah lapangan dengan kostum Laviola Dance Crew, Kirani Narendra Prameswari sudah lebih dulu membayangkan dirinya berada di sana. Bedanya, dalam bayangan Rani saat masih SMP, ia datang bukan dengan musik dan koreografi, melainkan dengan bola basket di tangannya.
Rani memang sempat mengira basket akan menjadi jalannya menuju DBL. Keinginan itu tumbuh setelah tiga tahun mengenal basket, mengikuti latihan dan pertandingan, hingga mulai membayangkan bagaimana rasanya berada di kompetisi yang selama ini hanya ia lihat dari luar.
Padahal, dance sudah lebih dulu hadir dalam hidupnya. Saat kelas IV SD, sekitar usia delapan tahun, Rani mulai menyukai dance setelah mengenal BLACKPINK. Boombayah dan Whistle menjadi dua lagu yang sering ia ikuti gerakannya, bahkan sang mama pernah diam-diam merekam Rani menari di dapur.
Ia juga sempat mengikuti lomba modern dance bersama teman-temannya. Namun, ketika masuk SMPN 20 Surabaya, Rani memilih meninggalkan dance dan mencoba basket dari nol.
“Awalnya memang dari diri sendiri. Aku mikir, ada enggak pertandingan yang ada cewek-ceweknya. Aku ingatnya basket. Terus aku mikir, sudahlah basket saja. Ternyata aku mulai dari nol banget, dribble saja dari kelas tujuh,” kenangnya.
Tiga tahun berikutnya ia habiskan untuk mengenal basket lebih jauh. Rani mengikuti klub di luar sekolah dan sejumlah event antarsekolah. Dari sana, keinginannya untuk merasakan kompetisi yang lebih besar tumbuh, termasuk DBL yang sejak SMP sudah ia impikan.
Ia bahkan sempat melihat beberapa pemain yang ia kenal berada di lingkungan DBL. Bagi Rani, pengalaman itu membuat mimpinya terasa semakin dekat. Ia membayangkan suatu hari bisa berada di lapangan yang sama sebagai pemain.
Namun, jalan tersebut tidak berlanjut seperti yang ia harapkan. Seorang teman SMP pernah mengatakan bahwa mungkin rezekinya memang bukan di basket dan wadahnya bukan di sana. Rani sempat tersinggung karena merasa tiga tahun yang ia habiskan untuk basket seperti tidak dianggap.
Ketika Rani kemudian kembali menekuni dance, muncul pula anggapan bahwa dirinya hanya seperti dancer yang berpindah cabor. Padahal, bagi Rani, dance bukan sekadar pelarian setelah perjalanan basketnya berhenti. Ia memang pernah meninggalkannya, tetapi ketika kembali, ia ingin menjalani dance dengan sungguh-sungguh.
“Waktu itu aku sempat baper. Kayak, apaan sih. Aku sudah sejauh ini, masa dibilang begitu. Tapi sekarang aku mikir, ternyata kalau bukan jodohnya bukan berarti perjalananmu berhenti di situ. Kalau memang enggak bisa di sini, ya cari yang lain,” ujar Rani.
Pemahaman itu perlahan muncul setelah Rani masuk SMKN 2 Surabaya. Sekolah tersebut sebenarnya bukan pilihan utamanya karena ia semula ingin melanjutkan pendidikan ke SMA. Namun, di tempat yang tidak pernah ia rencanakan itu, Rani justru menemukan kembali Laviola Dance Crew.
Rani tidak langsung sepenuhnya meninggalkan basket. Ketika seorang kakak kelas bernama Putri mengupayakan pembentukan basket putri, ia ikut berlatih selama sekitar tiga bulan bersama beberapa siswa lain di bawah bimbingan Bang Acig.
Latihan tersebut membuatnya kembali merasakan bola basket di tangannya. Namun, Rani juga melihat bahwa membangun tim dari awal membutuhkan waktu dan proses yang panjang. Sementara itu, Laviola memberinya ruang untuk kembali belajar dance setelah sekitar tiga tahun berhenti.
Di titik itu, Bang Acig ikut memberi pandangan yang membuat Rani semakin yakin. Jika tujuannya tetap DBL, ia masih memiliki kesempatan untuk sampai ke sana melalui dance, sedangkan membangun tim basket putri dari awal membutuhkan waktu yang tidak sebentar.
“Bang Acig pernah bilang, kalau aku memang mengincar DBL, enggak apa-apa kalau aku lanjut dance saja. Karena cari tim basket itu enggak sebentar. Harus dibangun, dilatih, bisa sampai setahun. Aku akhirnya mikir, oh iya juga,” tuturnya.
Rani pun memilih dance. Ia kembali mempelajari basic hip hop dan harus beradaptasi setelah lama meninggalkan dunia tersebut. Coach Kal kemudian menjadi salah satu sosok yang mendorongnya untuk berkembang dan membuka kesempatan bagi Rani mengikuti berbagai kegiatan serta job dance.
Pelan-pelan, Rani menemukan dunianya lagi. Ia bertemu dancer dari berbagai sekolah dan komunitas, mendapat pengalaman baru, hingga semakin yakin bahwa dance bukan sekadar jalan pengganti setelah basket tidak berjalan.
Sampai akhirnya, ia menginjakkan kaki di DBL Arena bersama Laviola Dance Crew. Tempat yang dulu ia bayangkan sebagai pemain basket kini benar-benar ia datangi, tetapi dengan musik, koreografi, dan peran yang berbeda.
“Pas akhirnya tampil di DBL, aku kayak, lihat aku kan. Aku masuk lapangan, ada kamera, banyak yang lihat. Rasanya puas banget. Bukan mau bilang aku lebih hebat, tapi aku seperti membuktikan, ternyata aku bisa juga di cabang ini,” katanya.
Bagi Rani, penampilan itu juga menjadi jawabannya terhadap anggapan bahwa dirinya hanya berpindah cabor. Ia ingin menunjukkan kepada teman-teman yang mengenalnya sebagai pemain basket bahwa dance yang ia jalani bukan keputusan sesaat.
“I wanna show you who I am,” ujarnya.
Kini, di tahun terakhirnya bersama Laviola, Rani bahkan dipercaya mengambil peran lebih besar. Ia membantu berkomunikasi dengan anggota yang lebih muda dan ikut membangun tim. Tanggung jawab tersebut sempat membuatnya takut, tetapi justru mengajarinya untuk berani menunjukkan dirinya.
Meski begitu, basket tidak benar-benar hilang. Sesekali Rani masih merasa ingin kembali berada di lapangan, terutama ketika melihat pertandingan putri. Ada rasa sedih ketika mengingat tiga tahun yang pernah ia habiskan untuk basket, tetapi ia tidak lagi membiarkan perasaan itu membuatnya mempertanyakan pilihannya.
“Kadang aku masih kangen basket. Kalau lihat teman-teman main, aku pernah mikir, pengin juga rasanya main di lapangan. Tapi sekarang aku langsung tepis. Aku di sini juga karena aku. Aku sudah memilih dance dan sudah menjalani ini. Jadi enggak perlu sedih lagi,” ucapnya.
Tiga tahun di basket akhirnya tidak menjadi jalan yang sia-sia. Begitu pula dengan masa ketika Rani meninggalkan dance. Keduanya menjadi bagian dari perjalanan yang membuatnya memahami bahwa sebuah mimpi tidak selalu harus dicapai dengan cara yang pertama kali kita bayangkan.
Dulu, Rani ingin datang ke DBL dengan bola basket di tangannya. Kini, ia sudah sampai di tempat yang sama sebagai dancer bersama Laviola.
Sebab, bagi Rani, bersinar tidak selalu berarti berdiri di tempat yang sejak awal kita inginkan. Kadang, sinar itu justru ditemukan setelah kita tersesat sebentar, berpindah arah, lalu berani kembali menjadi diri sendiri.
Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 siap mengguncang 31 kota di 22 provinsi se-Indonesia. Seperti musim sebelumnya, DBL Indonesia akan menjaring para student-athlete terbaik dari setiap kota untuk memperebutkan tiket DBL Indonesia All-Star melalui program DBL Camp.
Tak kalah seru, Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 juga menghadirkan AZA 3X3 Competition serta AQUA DBL Dance 2026-2027 dengan mengusung tema "100% Indonesia". Seluruh keseruan pertandingan bisa disaksikan secara langsung di kanal YouTube DBL Play, serta di YouTube Good Day ID khusus untuk laga final. (*)
Profil Kirani Narendra Prameswari bisa kalian cek di bawah ini (pengguna Android bisa melakukan scroll dengan double tap).