ESG

DBL ACADEMY

JR DBL

MAINBASKET

SAC

HAPPY
WEDNESDAY

DISWAY

MAINSEPEDA

Kirani Narendra Prameswari, anggota Laviola Dance Crew SMKN 2 Surabaya, saat memberikan dukungan penuh untuk tim basket Smekda di Round 2 Honda DBL with Kopi Good Day 2026 East Java North di DBL Arena Surabaya, Minggu, 20 September 2026.

Sebelum terbiasa berdiri di tengah lapangan dengan kostum Laviola Dance Crew (tim dance SMKN 2 Surabaya), Kirani Narendra Prameswari sudah lebih dulu membayangkan dirinya berada di sana. Hanya saja, dalam bayangan Rani saat masih SMP, ia datang bukan dengan musik dan koreografi, melainkan sebagai pemain basket yang mengejar mimpinya di DBL.

Mimpi itu tumbuh setelah Rani mengenal basket selama tiga tahun. Ia mulai dari nol, mengikuti latihan, bermain di klub, hingga mengikuti sejumlah pertandingan antarsekolah. Semakin lama, keinginannya untuk merasakan kompetisi yang lebih besar ikut tumbuh.

Sejak SMP, Rani sudah membayangkan bagaimana rasanya berada di kompetisi tersebut sebagai pemain. Ia bahkan sempat bertemu dengan beberapa pemain yang pernah ia lihat bermain di DBL. Pengalaman itu membuat mimpi yang semula hanya ada di kepalanya terasa semakin dekat.

Padahal, jauh sebelum basket, dance sudah lebih dulu menjadi bagian dari hidup Rani.

Baca juga: 7 Tahun Perjuangan Coach Zain Merajut Mimpi Basket Smekda

Saat duduk di kelas IV SD, sekitar usia delapan tahun, Rani mulai menyukai dance setelah mengenal BLACKPINK. Boombayah dan Whistle menjadi dua lagu yang sering ia ikuti gerakannya. Sang mama bahkan pernah diam-diam merekam Rani saat menari di dapur.

Rani juga sempat mengikuti lomba modern dance bersama teman-temannya. Namun, ketika masuk SMP, ia memilih meninggalkan dance dan mencoba basket dari awal.

"Awalnya pingin coba basket tuh memang dari diri sendiri. Aku mikir, ada enggak ya pertandingan yang ada cewek-ceweknya. Aku ingatnya basket. Terus aku mikir, ya sudahlah basket saja. Disitu aku mulai dari nol banget, dribble saja dari kelas VII," kenangnya.

Selama tiga tahun berikutnya, Rani benar-benar menjalani basket. Ia mengikuti klub di luar sekolah dan sejumlah pertandingan antarsekolah. Namun, setelah lulus SMP, perjalanan basketnya tidak berlanjut ke jenjang yang ia harapkan. Keinginannya untuk merasakan DBL sebagai pemain pun belum menemukan jalan.

Baca juga: Jari Dibalut Perban, Bukti Cinta Mati Zidane untuk Smekda

Di tengah situasi itu, seorang teman SMP pernah mengatakan kepada Rani bahwa mungkin rezekinya memang bukan di basket dan wadahnya bukan di sana. Bagi Rani saat itu, ucapan tersebut tidak mudah diterima. Ia merasa sudah memberikan waktu dan tenaga selama tiga tahun untuk basket, sementara DBL yang ia impikan belum juga bisa ia capai.

"Waktu itu aku sempat baper. Kayak, apaan sih. Aku sudah sejauh ini, masa dibilang begitu. Tapi sekarang aku mikir, ternyata kalau bukan jodohnya bukan berarti perjalananmu berhenti di situ. Kalau memang enggak bisa di sini, ya cari yang lain," ujar Rani.

Pemahaman itu perlahan menemukan bentuknya ketika Rani masuk SMKN 2 Surabaya (Smekda). Sekolah tersebut sebenarnya bukan pilihan utamanya. Ia semula ingin melanjutkan pendidikan ke SMA. Namun, di tempat yang tidak pernah ia rencanakan itu, Rani justru menemukan kembali dunia dance melalui Laviola Dance Crew.

Rani bahkan sempat mencoba menjaga hubungannya dengan basket. Ketika seorang kakak kelas bernama Putri mengupayakan pembentukan tim basket putri, ia ikut berlatih selama sekitar 3 bulan bersama beberapa siswa lain di bawah bimbingan Bang Acig.

Momen latihan Kirani Narendra Prameswari bersama skuad tim basket putri Smekda dan pelatih Bang Acig di lapangan sekolah (Foto: Dokumentasi pribadi Kirani Narendra Prameswari).

Baca juga: Bang Acig si Penyemai Mimpi Anak-anak Smekda di Lapangan Sepat

Kesempatan itu membuat Rani kembali membuka kemungkinan untuk melanjutkan basket. Namun, di saat yang sama, ia mulai melihat bahwa membangun tim dari awal membutuhkan proses panjang. Sementara itu, Laviola memberinya ruang untuk kembali belajar dance setelah sekitar 3 tahun berhenti.

Bang Acig kemudian memberikan pandangan yang membuat Rani semakin yakin dengan pilihannya. Jika tujuannya tetap ingin merasakan DBL, ia masih bisa mengejarnya melalui dance, sementara membangun tim basket dari awal membutuhkan waktu dan proses.

"Bang Acig pernah bilang, kalau aku memang mengincar DBL, enggak apa-apa kalau aku lanjut dance saja. Karena cari tim basket itu enggak sebentar. Harus dibangun, dilatih, bisa sampai setahun. Aku akhirnya mikir, oh iya juga," tuturnya.

Rani pun memilih kembali ke dance. Ia harus mempelajari lagi basic hip hop setelah sekitar tiga tahun meninggalkannya. Tidak mudah untuk langsung menemukan kembali gerakan yang pernah ia kenal, tetapi perlahan ia mulai terbiasa.

Baca juga: Bukan Sekadar Mengejar Menang, Coach Boyo Rawat Kultur Basket Smekda

Di tengah proses itu, Rani juga berhadapan dengan anggapan bahwa dirinya hanya seperti dancer yang berpindah cabor setelah perjalanan basketnya tidak berlanjut. Bagi Rani, anggapan tersebut terasa kurang menggambarkan proses yang ia jalani. Ia tidak ingin dance hanya dilihat sebagai pilihan setelah dirinya tidak menemukan jalan di basket.

Justru setelah kembali, Rani mulai benar-benar membangun dirinya di dunia dance. Coach Kal menjadi salah satu sosok yang ikut mendorong perkembangan Rani. Dari sana, kesempatan untuk mengikuti berbagai kegiatan dan job dance mulai berdatangan.

Rani bertemu dengan dancer dari berbagai sekolah dan komunitas, hingga semakin yakin bahwa dance bukan sekadar jalan lain menuju DBL, tetapi juga ruang yang ingin ia jalani dengan sungguh-sungguh.

Sampai akhirnya, kesempatan yang sejak SMP ia bayangkan benar-benar datang. Bukan sebagai pemain basket, melainkan sebagai bagian dari Laviola Dance Crew.

Baca juga: LDC Terinspirasi Sosok Reza Arap, Skyvader Suarakan Anti Bullying

Mimpi yang dulu Rani bayangkan lewat basket akhirnya membawanya ke DBL Arena. Kali ini, ia hadir dengan musik dan koreografi bersama Laviola.

Aksi energik Kirani Narendra Prameswari saat tampil bersama Laviola Dance Crew dalam ajang AQUA DBL Dance 2026 di DBL Arena Surabaya.

"Pas akhirnya tampil di DBL, aku kayak, lihat aku kan. Aku masuk lapangan, ada kamera, banyak yang lihat. Rasanya puas banget. Bukan mau bilang aku lebih hebat, tapi aku seperti membuktikan, ternyata aku bisa juga di cabang ini," katanya.

Rani ingin menunjukkan bahwa dirinya bukan sekadar seseorang yang berpindah dari basket ke dance. Ada proses yang ia jalani untuk kembali belajar, berkembang, dan menemukan tempatnya di dunia dance.

"I wanna show you who I am," ujarnya.

Baca juga: Catatan Menit Bermain Musim Lalu Jadi Motivasi Vincent Bersama Smekda

Kini, di tahun terakhirnya bersama Laviola, Rani mendapat kepercayaan untuk mengambil peran lebih besar dalam tim. Ia membantu berkomunikasi dengan anggota yang lebih muda dan ikut membangun kebersamaan di dalam tim.

Meski begitu, basket tidak sepenuhnya hilang dari dirinya. Sesekali, ketika melihat pertandingan, Rani masih membayangkan bagaimana rasanya kembali berada di lapangan. Namun, perasaan itu tidak lagi membuatnya mempertanyakan jalan yang sudah dipilih.

"Kadang aku masih kangen basket. Kalau lihat teman-teman main, aku pernah mikir, pengin juga rasanya main di lapangan. Tapi sekarang aku langsung tepis. Aku di sini juga karena aku. Aku sudah memilih dance dan sudah menjalani ini. Jadi enggak perlu sedih lagi," ucapnya.

Tiga tahun bersama basket tetap menjadi bagian penting dari perjalanan Rani. Begitu pula dengan masa ketika ia meninggalkan dance. Keduanya membawa Rani sampai pada satu pemahaman bahwa sebuah mimpi tidak selalu harus dicapai dengan cara yang pertama kali kita bayangkan.

Baca juga: Di Balik Koreo Ambigram Ultras Smekda, Ada Faith dan Hope untuk Basket Smekda 

Dulu, Rani ingin datang ke DBL dengan bola basket di tangannya. Kini, ia sudah sampai di tempat yang sama bersama Laviola. Bukan dengan cara yang pernah ia bayangkan, tetapi tetap sebagai Rani yang mengejar mimpi yang sama.

Sebab, bagi Rani, bersinar tidak selalu berarti berdiri di tempat yang sejak awal kita inginkan. Kadang, sinar itu justru ditemukan setelah kita berhenti sejenak, berpindah arah, lalu berani kembali menjadi diri sendiri.

Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 siap mengguncang 31 kota di 22 provinsi se-Indonesia. Seperti musim sebelumnya, DBL Indonesia akan menjaring para student-athlete terbaik dari setiap kota untuk memperebutkan tiket DBL Indonesia All-Star melalui program DBL Camp. 

Tak kalah seru, Honda DBL with Kopi Good Day 2026-2027 juga menghadirkan AZA 3X3 Competition serta AQUA DBL Dance 2026-2027 dengan mengusung tema "100% Indonesia". Seluruh keseruan pertandingan bisa disaksikan secara langsung di kanal YouTube DBL Play, serta di YouTube Good Day ID khusus untuk laga final. (*)

Profil Kirani Narendra Prameswari bisa kalian cek di bawah ini (pengguna Android bisa melakukan scroll dengan double tap).

Comments (0)
PRESENTED BY
OFFICIAL SUPPLIERS
SUPPORTING PARTNERS